Lompat ke isi utama

Berita

Wujudkan Pemilu dan Pemilihan Inklusif, Bawaslu Sumba Tengah Sosialisasi di SLB Waibakul

difabel

Bawaslu Kabupaten Sumba Tengah foto bersama para siswa dan guru pengajar di SLB Waibakul, Senin (24/3/2024).

Waibakul – Dalam semangat mewujudkan Pemilu dan Pemilihan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh warga negara, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sumba Tengah melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengawasan Pemilu bagi Penyandang Disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Waibakul, Senin (24/3/2024).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Bawaslu Sumba Tengah, Yermias Umbu Yagu, bersama Anggota Roos Linda Rambu Lodji dan Martinus R. Walangara, serta Koordinator Sekretariat, Umbu Kaledi Kapeta, dan sejumlah staf Bawaslu Sumba Tengah. Kehadiran jajaran Bawaslu ini disambut hangat oleh Kepala Sekolah SLB Waibakul, para guru, dan siswa-siswi yang telah berusia 17 tahun sebagai calon pemilih pemula.

Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu Sumba Tengah, Yermias Umbu Yagu, menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bentuk kepedulian Bawaslu terhadap kelompok disabilitas yang seringkali menghadapi hambatan dalam mengakses informasi politik dan kepemiluan.

“Pemilu adalah milik semua warga negara tanpa terkecuali, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Mereka punya hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Karena itu, kami datang ke sini bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk mendengarkan, memahami, dan memastikan tidak ada satu pun hak yang terabaikan,” tutur Yermias dengan penuh empati.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dihimpun Bawaslu, terjadi penurunan partisipasi pemilih penyandang disabilitas dalam Pemilu terakhir dibandingkan dengan tingkat partisipasi pada Pilkada sebelumnya. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm penting bagi semua pihak untuk memperkuat pendidikan politik bagi kelompok disabilitas.

“Kami tidak ingin ada lagi cerita bahwa pemilih disabilitas tidak tahu bagaimana cara menggunakan hak suaranya, atau bahkan tidak tercatat dalam daftar pemilih. Itulah sebabnya sosialisasi seperti ini sangat penting dilakukan sejak dini,” lanjutnya.

Sementara itu, Anggota Bawaslu Sumba Tengah, Roos Linda Rambu Lodji, menambahkan bahwa Bawaslu juga mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam aspek pengawasan partisipatif, bukan hanya sebagai pemilih.

“Kami ingin menanamkan semangat bahwa penyandang disabilitas bukan hanya objek dari proses Pemilu, tetapi juga subjek yang punya peran penting dalam menjaga kejujuran dan keadilan Pemilu. Setiap orang bisa menjadi pengawas, sekecil apa pun perannya,” jelas Roos Linda.

Dalam kesempatan yang sama, Martinus R. Walangara, Anggota Bawaslu lainnya, menekankan pentingnya aksesibilitas informasi dan tempat pemungutan suara (TPS) bagi penyandang disabilitas.

“Aksesibilitas bukan hanya soal fisik seperti jalan atau bilik suara, tapi juga soal informasi yang mudah dipahami. Kami ingin memastikan bahwa ke depan, setiap tahapan Pemilu benar-benar ramah disabilitas,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap penjelasan yang disampaikan dengan metode interaktif dan sederhana. Mereka juga diberi kesempatan bertanya tentang proses Pemilu dan peran Bawaslu dalam menjaga integritas demokrasi.

Kepala SLB Waibakul, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Bawaslu Sumba Tengah atas perhatian dan inisiatifnya dalam mengunjungi sekolah mereka.

“Kami merasa terhormat atas kunjungan ini. Kegiatan seperti ini memberi wawasan baru bagi anak-anak kami. Mereka merasa diakui sebagai bagian penting dari masyarakat demokratis,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Sumba Tengah menunjukkan komitmennya untuk terus mendorong inklusi demokrasi di Kabupaten Sumba Tengah. Sosialisasi di SLB Waibakul menjadi langkah nyata bahwa dalam demokrasi, tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang dilupakan, dan setiap suara memiliki makna yang sama pentingnya.